Sabtu, 03 September 2016

Kloter Terakhir Gelombang Pertama Calon Jemaah Haji tinggalkan Madinah Menuju Mekkah


Seluruh jamaah haji gelombang pertama telah meninggalkan Madinah menuju Mekkah untuk menanti pelaksanaan puncak ibadah haji yaitu Wukuf di Arafah pada 10 September 2016.

Kepala Seksi Kedatangan dan Pemulangan Ari Octaviansyah di Kantor Daerah Kerja Mekkah, Kamis menjelaskan bahwa kelompok terbang (kloter) 14 embarkasi Banjarmasin (BDJ 14) menjadi kloter terakhir yang bergerak ke Mekkah dari Madinah.

BDJ 14 terbagi dalam tujuh rombongan yang diberangkatkan dari Madinah pada Rabu (31/8) pukul 17.11 waktu Arab Saudi. 

"Bus pertama tiba di Makkah pada Kamis (1/9), pukul 00.20 dini hari. Sedangkan bus terakhir tiba di pemondokan pada pukul 06.55 pagi," katanya.

Jamaah BDJ 14 ditempatkan di pemondokan 407 dan 409 di kawasan Aziziah, Mekkah.

Dengan kedatangan BDJ 14 di Mekkah, maka total terdapat 212 kloter jamaah yang diberangkatkan dari Madinah menuju Mekkah. 

Menurut Kasi Data dan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siakohat) Daker Makkah Eko Dwi Irianto, dari data yang ada, lebih dari 86.600 jamaah yang sudah menjalankan proses Arbain di Masjid Nabawi kini sudah berada di Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selama di Makkah, setelah menjalani umrah wajib, mereka akan menunggu sampai puncak haji, Wukuf di Arafah, hingga waktunya untuk dipulangkan ke Tanah Air.

Sementara itu kedatangan jamaah haji Indonesia dari Tanah Air melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAAIA) masih berlangung hingga 5 September 2016.

Sampai dengan Kamis pagi, total jamaah yang tiba di Tanah Air sudah 145.090 orang, terdiri dari 133.400 jamaah dengan 1.650 petugas yang tergabung dalam 


sumber antara

Kemenag Punya Standar Lakukan Pengawasan Penindakan dan KIE


Dalam menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan dan penindakan kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) banyak hal yang telah dilakukan Kementerian Agama (Kemenag).
"Tim Khusus Penegakan Hukum penyelenggara haji dan umrah (Timsusgakum) dibentuk untuk menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan dan penindakan. Tidak sedikit yang sudah disanksi," kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil melalui pesan singkatnya langsung dari Jeddah, Minggu (28/08/2016).
Menjawab apa yang disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM dan Kebijakan Publik Busyro Muqoddas yang mendesak Kemenag segera membenahi mekanisme sosialisasi dan audit biro perjalanan haji.
"Untuk penyelenggara haji dan umrah yang tidak memiliki izin, Kemenag sudah melakukan kerjasama dengan Polri untuk melakukan tindakan. Dan tidak sedikit pimpinan penyelenggara yang sudah masuk kurungan, dan tidak sedikit juga yang saat ini masih dalam proses penyelidikan," terang Djamil.
Timsusgakum juga turun ke lapangan melakukan kordinasi dengan Polda di provinsi dan melakukan sidak ke penyelenggara tak berizin.
"Daftar nama penyelenggara berizin dipublikasi di www.haji.kemenag.go.id dan tim cyber haji juga dibentuk dalam ber-komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat dan penyelenggara," kata Djamil.
Mantan orang nomor satu di UIN Walisongo ini juga menyampaikan bahwa ada komitmen dan penandatangan vakta integritas untuk menjadi penyelenggara sesuai aturan. Pemberian izin dan perpanjangan izin juga tidak asal diberikan.
"Ada mekanisme yang harus dipenuhi. Seperti akreditasi yang dipimpin langsung oleh konsultan independen dalam memberikan grade (tingkatan) nilai, pemaparan program dan bisnis proses oleh penyelenggara yang diuji oleh orang berdisiplin ilmu ekonomi, hukum, syariah dll," terang Djamil.
Bahkan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dinilai 100 persen transparansi dalam informasi.
"OGI (Open Governance Indonesia) dan Bappenas memberikan nilai 100 persen pada transparansi informasi di Ditjen PHU. Bahkan media sosial facebook informasi haji berada pada urutan ke tiga dari seluruh kementerian/intitusi/badan pemerintah atas aktivasi berkomunikasi dan tanyajawab langsung dengan masyarakat," kata Djamil. (ar/ar/kemenag)

Tips Agar Tidak Tersesat Ketika Menjalankan Ibadah Haji & Umrah


Ibadah Haji adalah merupakan ibadah yang dilakukan pada setiap tahun, yang dilakukan oleh umat Islam dari seluruh dunia, yang berpusat di Mekkah Al-Mukaromah. Maka tak heran, jika Masjidil Haram akan penuh sesak oleh jemaah yang tengah menjalankan ibadah haji.
Dengan hiruk pikuknya jemaah serta kepadatan para jemaah haji tersebut, maka akan banyak kasus jemaah yang tersesat, terlebih bagi jemaah tempat ibadah tersebut adalah baru baginya, dan juga perbedaan geografis, bahasa yang terdapat pada marka jalan.

Mengenal Miqat di Ji’ranah, miqot Penduduk Mekkah dan sekitarnya


Disamping Masjid Tanaim, bagi penduduk Mekkah al-Mukaromah dapat melakukan miqot haji atau umrah dari Masjid Ji’ranah. Nama Jiranah adalah diambil dari nama sebuah desa yang letaknya sekitar 26 km dari pusat Kota Mekkah. Menurut sejarah bahwa jiranah merupakan nama yang diberikan kepada seorang wanita yang hidupnya dihabiskan untuk menjaga dan membersihkan masjid yang terdapat kawasan tersebut.
Kampung jiranah ini berada letaknyua bersebelahan dengan daerah soraya. Jika anda bermaksud miqot dari juranah, anda dapat menyarter kendaraan yang menuju daerah Ta’if.
Terkait dengan tempat miqot, Imam Syafi’i berpendapat, bahwa Ji’ranah merupakan salah satu tempat  untuk melakukan  miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Mekkah. Menurut salaha satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori Muslim bahwa Rasulullah SAW memulai Ihram-nya dari tempat tersebut.
                                         BACA SELENGKAPNYA........